Prabowo Lebih Mirip Fir’aun Atau Nabi Muhammad SAW?

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau para mahasiswa dan elemen masyarakat yang berunjuk rasa baru-baru ini untuk meneladani cara Nabi Musa menghadapi Firaun. Ia meminta demonstran tetap menggunakan tutur bahasa yang santun dan lemah lembut saat menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Nasaruddin Umar memang tidak mengatakan bahwa yang dianalogikan sebagai Fir’aun adalah Presiden Prabowo Subianto, tapi dalam teori framing, makna pesan tidak hanya ditentukan oleh isi tapi oleh bingkai yang menyertainya — ketika Menteri Nasaruddin menyebut Nabi Musa AS, demonstran, dan Fir’aun dalam satu konstruksi narasi, publik otomatis membangun asosiasi simbolik, dan pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang dimaksud Fir’aun itu.

Tentu saja pertanyaan ini tidak akan pernah dijawab langsung oleh Nasaruddin.

Namun publik saat mendengar pernyataan Menteri Agama ini sudah terlanjur mengasosiasikan tokoh Fir’aun itu dengan Prabowo Subianto.

Dalam kesempatan yang berbeda Menteri ATR/BPN Nusron Wahid pernah menganalogikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya layaknya Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Analogi ini merujuk pada karakter Sayyidina Ali yang dikenal sangat setia, pemberani, dan selalu siap mengorbankan jiwa raganya untuk membela Rasulullah SAW, layaknya dedikasi Teddy kepada Presiden Prabowo Subianto.

Narasi Nusron lebih eksplisit karena menyebut 4 tokoh sekaligus dalam podcast itu, ada nama Teddy, Prabowo, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dan Nabi Muhammad SAW.

Secara teori framing dia jelas mengasosiasikan Teddy Indra Wijaya dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Prabowo Subianto dengan Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan Yang Menggelitik

Di satu waktu publik disuguhkan narasi yang membuat orang berkesimpulan bahwa Prabowo mirip Fir’aun, sementara itu di lain waktu disuguhi narasi Prabowo mirip Nabi Muhammad SAW.

Akhirnya orang menjadi bingung dengan perkataan kedua menteri Prabowo itu, lalu muncul pertanyaan logis “Sebenarnya lebih mirip mana Prabowo dengan Fir’aun atau Prabowo dengan Nabi Muhammad SAW?”

Meski pertanyaan ini menggelitik dan bisa menjadi topik perdebatan tersendiri, pertanyaan ini sebetulnya tidak penting, karena inti permasalahan sebenarnya bukanlah di situ.

Masalah Adab

Kita ingat pula, jauh sebelum kedua pernyataan menteri Prabowo itu, yakni saat kampanye Pilpres 2024, anggota TKN (Tim Kampanye Nasional) Khofifah Indar Parawansa mengibaratkan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka seperti sahabat Nabi Muhammad SAW, yakni Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali.

Ketiga narasi itu menunjukkan pola yang sama — pejabat publik Indonesia gemar memakai analogi keagamaan untuk membingkai situasi politik kontemporer, dan itu berisiko karena bobot simbolik tokoh-tokoh ini terlalu berat untuk dipakai secara longgar.

Inti permasalahan dari pernyataan-pernyataan di atas berada di wilayah adab terhadap pemimpin atau penguasa, bahaya ghuluw (berlebihan dalam memuji), dan larangan menyamakan manusia biasa dengan para Nabi atau generasi utama Islam.

Pendapat Ulama Klasik

Ulama klasik banyak membahas fenomena semacam ini, meskipun konteks sejarahnya sering berupa pujian berlebihan kepada khalifah, raja, atau pejabat.

Imam al-Ghazali memperingatkan tentang bahaya menjadikan penguasa sebagai obyek pengkultusan.

Imam al-Ghazali dalam pembahasan tentang hubungan ulama dan penguasa mengkritik ulama atau orang yang mendekati penguasa demi dunia, karena sering membuat mereka memoles kebatilan dengan pujian.

Dalam Ihya’ Ulumid Din, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu penyakit hati adalah cinta kedudukan (hubbul jah). Orang yang cinta kedudukan bisa memuji seseorang bukan karena kebenaran, tetapi karena ingin mendapatkan posisi atau perlindungan.

Imam Abu Faraj bin al-Jawzi mencela orang yang memuji penguasa secara palsu. Dalam karya-karyanya beliau mengkritik para penjilat penguasa.

Imam Ibnu al-Jawzi menjelaskan bahwa orang yang dekat dengan penguasa sering terkena penyakit: membenarkan kesalahan penguasa, melebih-lebihkan keutamaan penguasa dan membuat perbandingan yang tidak pantas.

Menurut beliau, pujian semacam ini bukan nasihat, tetapi bisa menjadi fitnah bagi penguasa, karena membuatnya merasa selalu benar. 

Kesamaan Latar Belakang

Kalau diperhatikan lebih seksama, tiga orang (Nasaruddin Umar, Nusron Wahid, dan Khofifah Indar Parawansa) yang mengeluarkan pernyataan kontroversial ini mempunyai latar belakang yang sama, yakni ketiganya dikenal sebagai tokoh PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).

Fakta ini sebenarnya ironis mengingat Nahdlatul Ulama dideklarasikan sebagai organisasi kaum ahlus sunnah wal jama’ah.

Tradisi dalam komunitas kaum ahlus sunnah wal jama’ah adalah menjunjung tinggi kemuliaan para Nabi, lebih khusus lagi kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan juga menjaga marwah sahabat-sahabat utama Nabi SAW. Oleh karena itu mengkultuskan seseorang dan mengibaratkan baik langsung maupun tidak langsung pejabat-pejabat negara sebagai Nabi Muhammad SAW atau sahabat utama Nabi dapat dikategorikan sebagai perilaku su’ul adab.

Noor Hilmi, anggota redaksi inharmonia.id dan etiks.id