Catur Melatih Patriotisme

Luar biasa, TNI menyelenggarakan “Turnamen Catur Piala Panglima TNI” di Graha Tirta Siliwangi, Jalan Lombok no. 10, Kota Bandung, tanggal 20 September 2026. Turnamen ini bisa dipantau di seluruh dunia melalui website chess result.

Catur adalah olahraga tentang strategi yang mengajarkan pemainnya untuk rela mengorbankan pasukannya, para menterinya, bahkan perdana menterinya untuk mempertahankan dan memenangkan pertandingan. TNI lebih dari itu, organisasi ini rela mengorbankan jiwa dan raga untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. TNI sudah membuktikannya sejak perjuangan kemerdekaan sampai sekarang, dan TNI selalu menanamkan jiwa patriotism, bukan hanya kepada anggotanya sendiri, tetapi juga kepada seluruh masyarakat.

Turnamen catur kali ini merupakan bagian sosialisasi patriotisme kepada para pemainnya, khususnya bagi peserta dari Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Semoga turnamen seperti ini terus berlanjut, bukan hanya tahun ini tetapi tahun-tahun selanjutnya. Bukan hanya di Bandung, tetapi di seluruh kota, di seluruh Indonesia.

Saring sebelum sharing

Perlu dicatat, para pemain catur sebelum mengorbankan perwiranya untuk meraih kemenangan, selalu diawali dengan berpikir cerdas sebelum melangkah. Oleh karena itu olahraga catur menanamkan kebiasaan untuk berpikir cerdas sebelum melakukan tindakan. Menganalisis situasi dengan teliti, mengatur strategi sebelum melangkah. 

Kebiasaan ini sekarang sedang disebarkan oleh kalangan pendidikan di dalam menghadapi banjir informasi, yaitu dengan tekad “saring sebelum sharing”. Masyarakat diajak menggunakan akal sehat untuk memahami banjir informasi yang sedang terjadi, kemudian menyaringkan, apakah berita itu benar atau hoax. Setelah itu disaring lagi, apakah informasi itu bermanfaat bagi masyarakat, sebelum ikut menyebarkan informasi itu. Intinya jangan cepat percaya kepada informasi yang beredar.

Catur juga mengajarkan kepada para pemainnya, bahwa dengan kerajinan, ketekunan dan keberanian, kesuksesan bisa diraih. Pion yang maju terus, nanti pada akhirnya bisa menjadi Perdana Menteri. Diam-diam dalam permainan catur, ditanamkan kebudayaan bahwa kerajinan dan ketekunan bisa berujung pada prestasi yang luar biasa.

Tiga hal inilah yang perlu dipertimbangkan oleh para guru di seluruh Indonesia untuk mempertimbangkan olahraga catur dimasukkan ke dalam PJOK (Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan) di sekolah-sekolah. Tentu saja catur yang diajarkan adalah catur yang diatur waktunya, jangan sampai karena terlalu asyik main catur, sehingga melupakan sholat dan belajar bagi para pelajar. Dalam setiap turnamen catur masalah penjadwalan pertandingan diatur dengan cermat, sehingga memberi kesempatan setiap atletnya untuk melaksanakan ibadah sholatnya.***