“Berlibur ke Rumah Nenek” dan Hipokrisi Dunia Pendidikan Kita Pilihan

Bayangkan seorang murid  kelas 5 SD bernama Budi saat hari pertamanya masuk kembali sekolah. Ia duduk di bangkunya dengan wajah gelisah.

Di depannya, halaman buku LKS  yang dibagikan gurunya. Tangannya gemetar memegang pensil, ketika mendengar perintah tugas:

“Anak-anak, sekarang tulislah oleh kalian karangan tentang liburanmu ke rumah nenek di desa.”

Budi menunduk lama. Ia tahu, rumah nenek yang dimaksud bu guru pasti beratap genteng merah, dikelilingi sawah dan kebun yang hijau. Ada ayam berkeliaran, ada kandang domba dan kolam ikan.

Juga ada  sungai kecil di belakang rumah yang airnya jernih dan bersih tempat ia bisa mandi-mandi sambil tertawa.

Tapi Budi? Liburannya hanya di rumah kontrakan sempit di pinggir rel kereta. Neneknya sudah tiada sejak ia masih balita.

**

Ibunya setiap hari pulang malam dari pasar, badannya letih membawa sisa-sisa sayuran yang tak laku. Ayahnya Budi? Entah di mana.

Budi  menatap teman-temannya yang mulai menulis dengan semangat. Ada yang cerita tentang naik gunung, ada yang berenang di pantai bersama kakek-nenek. Tawa kecil terdengar di sana-sini.

Budi  menarik napas panjang, lalu mulai menulis:

“Pagi-pagi aku bangun, mendengar kokok ayam…”

Padahal pagi liburannya, ia bangun karena suara kereta yang lewat mengguncang dinding rumah. 

Budi menulis tentang makan nasi liwet bersama nenek, padahal makan malamnya hanya nasi dengan kecap dan telur ceplok yang dibagi bertiga.

Budi  menulis tentang sawah hijau yang luas, padahal yang ia lihat setiap hari hanya tembok tetangga dan tumpukan sampah di got.

Budi menyadari ia sedang berbohong. Tapi ia juga tahu, kalau ia menulis yang sebenarnya, bu guru akan bertanya,

“Kok Budi liburannya begitu saja? Tidak adakah  kegiatan yang menyenangkan?”

Atau lebih buruk lagi, bu guru akan kasihan kepadanya. Dan rasa kasihan yang terasa seperti belas, akan  membuatnya semakin kecil di matanya sendiri.

Di negeri ini, cerita ihwal Budi  bukanlah  cerita rekaan. Itu  boleh jadi merupakan cerita ribuan anak di negeri kita yang setiap tahun dipaksa menulis “Berlibur ke Rumah Nenek” atau “Liburanku yang Menyenangkan”.

**

Sebuah tugas yang bagi sebagian anak adalah kenangan manis, tapi bagi yang lain adalah luka yang tersembunyi di balik kalimat-kalimat indah yang tak pernah mereka alami.

Pada Sabtu (3/1/2026), sebuah pesan viral di media sosial seolah berasal dari Menteri Pendidikan:

“Yang terhormat bapak dan ibu guru, mohon dengan sangat masuk sekolah nanti jangan minta murid bercerita liburan ke mana? Cukup ditanya “Gimana liburannya?”

Karena ada di antara murid kita yang liburan di rumah aja. Jangankan buat liburan, bahkan mereka enggak tahu besok masih bisa makan atau tidak.”

Demikian yang tertulis diunggahan tersebut yang dikutip Kompas.com dari IG Stories akun Instagram @kemendikdasmen.

Untunglah pesan itu ternyata hoaks dan sudah diluruskan oleh kementerian. Tapi justru postingan hoaks itulah yang membuka mata banyak orang.

Karena meski palsu, pesan itu benar-benar menyuarakan apa yang selama ini hanya bergumam di hati anak-anak yang tak punya cerita “layak” untuk diceritakan.

Kita, para orang dewasa: guru, orang tua, para pembuat kurikulum, sering kali tanpa sadar membangun dunia imajiner yang sama untuk semua anak.

Kita menganggap setiap anak punya nenek di desa yang asri. Kita menganggap liburan berarti pergi ke suatu tempat.

Kita lupa bahwa bagi sebagian anak, liburan berarti membantu ibu menjual gorengan dari pagi sampai malam. Atau menjaga adik di rumah karena orang tua bekerja. Atau sekadar bertahan hidup tanpa listrik karena tagihan belum dibayar.

++

Kemudian  yang paling menyakitkan: ketika anak-anak ini dipaksa berpura-pura, kita tanpa sadar mengajari mereka pelajaran pertama tentang hipokrisi.

Bahwa untuk diterima, untuk mendapat nilai baik, untuk tidak dibedakan, mereka harus menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya.

Mereka belajar bahwa kejujuran tidak selalu dihargai. Bahwa dunia lebih menyukai cerita indah daripada kenyataan pahit.

Bayangkan dampaknya bertahun-tahun kemudian. Anak yang terbiasa berbohong kecil demi tugas karangan, lambat laun mungkin akan merasa bahwa berbohong demi “tampak baik” adalah hal biasa. Demi nilai, demi penerimaan, demi tidak malu.

Ketika mereka dewasa, kebiasaan menyembunyikan realitas itu bisa berubah menjadi korupsi kecil di kantor, laporan palsu, atau politik yang penuh topeng.

Lebih dari itu, mereka tumbuh dengan rasa malu yang dalam terhadap latar belakang mereka sendiri—rasa malu yang membuat mereka sulit bangga menjadi diri sendiri.

Bertahun-tahun lalu, Seno Gumira Ajidarma sudah menuliskan luka ini dalam cerpennya yang berjudul “Pelajaran Mengarang”.

Cerpen itu  menceritakan Sandra, seorang murid SD berusia 10 tahun dari keluarga broken home—ibunya bekerja sebagai pelacur, dan Sandra tak tahu siapa ayahnya.

Saat guru meminta karangan tentang pengalaman liburan, Sandra kesulitan karena realitas hidupnya penuh kemiskinan dan kekerasan, bahkan perundungan.

Hari ini, puluhan tahun setelah cerpen itu ditulis, boleh jadi masih banyak guru yang mengulang pelajaran yang sama.

Mungkin saatnya kita berhenti memaksa anak-anak menulis tentang  liburan? Apa yang membuatmu senang, sedih, atau lelah?” Dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa pun jawabannya.

Karena setiap anak berhak punya cerita yang layak diceritakan. Cerita yang benar-benar milik mereka. Tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk mendapat nilai sepuluh.***