Di negeri yang konon masyarakatnya amat sangat religius ini, kedatangan Ramadan sering kali tidak disambut dengan keheningan mental yang kental refleksi diri, sambil meningkatkan pemahaman untuk mengisi berbagai ibadah di bulan penuh berkah dan ampunan tersebut.
Sebaliknya, yang kita saksikan keriuhan “festival kuliner kolosal” di berbagai restoran dan atau di tempat makan-makan lainnya.
Seolah-olah “pintu dapur” akan segera digembok rapat oleh otoritas langit, dan oleh karenanya, sebagian masyarakat justru bersibuk-ria melakukan ritual “tabung kalori” massal.
Ya, sebelum fajar pertama Ramadan menyapa, kita lazim menyaksikan “mobilisasi piring” di sejumlah tempat penjualan kuliner yang luar biasa, yang mungkin hanya bisa disaksikan di negeri ini.
**
Di tanah Sunda, kerumunan memadati meja makan sebelum Ramadan tiba tersebut disebut tradisi munggahan atau papajar.
Di Jawa Tengah dan Timur, warga berbondong-bondong membasuh diri dalam ritual padusan atau menyusun gunungan apem dalam megengan—yang ujung-ujungnya tentu saja kembali ke urusan perut juga.
Tak ketinggalan di Aceh ada tradisi pesta daging meugang, atau di Minangkabau yang harum dengan aroma santan dalam tradisi malamang.
Rentetan fenomena tersebut secara tidak sadar telah memahat memori kolektif yang agak melenceng: bahwa inti berpuasa hanyalah sebatas perihal manajemen lambung.
Ramadan pun bergeser menjadi sekadar selebrasi prandial. Oleh karena itu sebelum hal itu harus dijalani, maka perlombaan menimbun lemak, seolah-olah besok adalah hari pertama kelaparan panjang melanda dunia, dianggap wajar dilakoni.
Namun, benarkah ibadah puasa hanya soal memindahkan jam makan?
**
Jika kita menyelami lebih dalam, terdapat disparitas yang lebar antara selebrasi fisik dan esensi spiritual yang diperintahkan. Reduksi makna ini sesungguhnya dapat ditelusuri dari sebuah “jebakan semantik” dalam sejarah bahasa kita.
Dalam terminologi Islam, perintah ini dinamakan shaum atau shiyam. Secara kalamiah, shaum berarti al-imsak atau “menahan diri” dalam spektrum yang sangat luas—mencakup pengendalian lisan, hati, hingga pikiran.
Namun, ketika Islam masuk ke Nusantara, istilah shaum diterjemahkan menjadi “puasa”.
Kata ‘puasa’ diserap dari bahasa Sanskerta, upavasa, yang dalam tradisi kuno Nusantara secara spesifik diidentikkan dengan ritual penyucian diri melalui penahanan lapar dan haus.
Karena istilah upavasa sudah mendarah daging jauh sebelum pengaruh Islam masuk secara masif, boleh jadi skema mental masyarakat pun akhirnya terpatri pada ritual fisik belaka.
Akibatnya, saat mendengar kata “puasa”, asosiasi pertama yang muncul bukanlah manajemen emosi, melainkan “kosongnya lambung”.
**
Inilah mungkin alasan sosiologis mengapa tradisi makan besar sebelum Ramadan tiba begitu dominan. Secara bawah sadar, medan semantik kata “puasa” telah mengarahkan kita untuk menganggap bahwa variabel utama yang sedang dikelola terkait puasa hanyalah seputar “logistik perut” belaka. Dimensi shaum sebagai kendali diri menyeluruh pun tereduksi menjadi aktivitas biologis.
Akibat pemahaman yang keliru tersebut, tidak heran jika banyak umat Islam di negeri ini yang begitu disiplin menjaga agar tidak ada benda masuk ke tenggorokan, namun cenderung longgar menjaga apa yang keluar dari lisan.
Padahal, Al-Qur’an dan Hadis telah memberikan rambu-rambu jelas bahwa lapar hanyalah ambang pintu, bukan tujuan.
Dalam QS. Al-Baqarah: 183, tujuan akhir shaum adalah la’allakum tattaqun (agar bertaqwa)—sebuah kondisi mental dan sosial, bukan sekadar fisik yang lemas.
Rasulullah SAW bahkan memberi kritik tajam bagi mereka yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga namun tetap gemar bergunjing (ghibah) atau melakukan laku-lajak lainnya.
Idealnya, Ramadan adalah laboratorium perilaku. Kita dilarang melakukan hal yang halal di siang hari (seperti makan dan hubungan suami-istri) agar kita terlatih meninggalkan hal yang haram di luar Ramadan.
Kesalehan ini pun harus seimbang; antara ritual personal seperti qiyamul lail dan tadarus, dengan kesalehan sosial melalui zakat dan sedekah. Rasa lapar selama 14 jam sesungguhnya adalah “alat bantu empati” untuk merasakan penderitaan mereka yang lapar sepanjang tahun.
**
Sudah saatnya kita membedah kembali memori kolektif ini. Tradisi makan bersama sebelum Ramadan tiba, apapun istilahnya, —meski indah secara sosial— jangan sampai mengukuhkan persepsi bahwa puasa hanyalah perpindahan metabolisme.
Puasa adalah momentum untuk “berpuasa” dari kebencian, hoaks, dan egoisme.
Jika kita berhasil melampaui definisi “puasa” urusan perut dan kembali ke makna shaum sebagai kendali diri total, maka Ramadan akan benar-benar menjadi madrasah yang melahirkan manusia baru: yang lebih jernih secara spiritual dan lebih welas asih secara sosial. Allahu a’lam.***










