Siapa pun tahu, Indonesia masuk negara-negara terkaya di dunia, buktinya Indonesia masuk G-20. Selain itu Indonesia sangat kaya bencana alam. Indonesia berada dalam lingkaran api bencana alam, berupa gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami. Di tambah lagi dengan bencana hidrometeorologi, perubahan iklim yang ditandai dengan hujan dan angin.
Dari semua bencana itu, hanya gempa bumi yang belum diketahui tanda-tanda terjadinya. Jadi kita harus hati-hati, khususnya megatrust. Gempa bumi terhebat di pantai barat Sumatera dengan magnitude lebih dari 9, menimbulkan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, telah menewaskan lebih dari 200.000 orang Indonesia, 38.940 orang Sri Lanka, 20.000 orang India, 8.212 orang Thailand, dan 80 orang Malaysia.
Megatrust adalah ancaman gempa besar, cakupannya melewati batas negara. Ada juga gempa-gempa lokal yang menakutkan, masyarakat Bandung Raya khawatir dengan sesar Lembang. Di Palu ada gempa (magnitude 7.5) dengan liquifaction. Demikian juga ancaman gempa lokal di hampir seluruh wilayah Indonesia.
**
Ancaman bencana alam yang besar lainnya adalah siklon yang menimbulkan hujan dan badai. Akhir November 2025 banjir menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang menewaskan menewaskan sekira 1.200 orang, dan mungkin masih bertambah. Banjir besar ini terjadi karena adanya siklon tropis senyar. Berapa kerugian akibat banjir besar itu?
Banjir memang sering terjadi di Indonesia. Pada tahun 2023, banjir juga melanda Aceh Tamiang dan ada dua orang korban meninggal dunia. Bencana di Indonesia dapat dipantau di websire BNPB, https://bnpb.go.id . Pada tahun 2023 terjadi 5.400 kejadian bencana di Indonesia termasuk 1.255 banjir dan 591 longsor, dengan korban meninggal dunia sebanyak 275 orang.
Kejadian bencana Tahun 2024 mengalami penurunan dibanding Tahun 2023, yaitu 3.472 kejadian bencana, namun jumlah yang meninggal lebih banyak yaitu 540 orang.((Lihat “Infografis Data Bencana”)
Andaikata tidak ada hujan karena siklon tropis senyar, mungkin tidak ada bencana alam sehebat akhir November 2025 di Sumatera. BMKG (Badan Meteorolgi Klimatologi dan Geofisika) melaporkan curah hujan di beberapa daerah Sumatera Utara melebihi 300 mm/hari pada puncak kejadian. Curah hujan yang tinggi dan berhari-hari membuat banjir besar yang mampu membawa batang kayu dan pohon. Dan terbongkarlah betapa besarnya deforestasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera.
Bencana ini harus menjadi pelajaran bersama. Tiap Gubernur di seluruh Indonesia, bahkan tiap Bupati dan Walikota di seluruh Indonesia harus melakukan pendataan keadan hutannya, dan ancaman tanah longsornya, dan merancang penanaman kembali pohon-pohon yang dapat menjadi benteng pertahanan jika terjadi banjir di wilayahnya.
Andaikata hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak serusak itu, mungkin korban dan kerugian akibat banjir tidak sebesar itu.
Evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh, sehingga program mitigasi bencana alam bisa segera dilaksanakan, dengan demikian ancaman bencana alam kepada masyarakat Indonesia bisa dikurangi. Tentu saja seluruh masyarakat harus ikut serta melakukan program mitigasi bencana alam yang dibuat oleh pemerintah.


(Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi, inharmonia.id).***










