Sebuah euforia berskala nasional beberapa minggu ini tiba-tiba muncul di berbagai media mainstream di tanah air. Kisahnya bermula dari sebuah desa di Jonggol, Jawa Barat, saat sekelompok warga Indonesia diberitakan menemukan sejenis cairan ajaib berbahan baku tetumbuhan bernama Bobibos. Dikisahkan Bobibos bisa menggantikan bahan bakar fosil seperti bensin dan solar.
Bukan hanya itu, cairan ini diklaim memiliki RON 98.1 yang berarti melebihi nilai oktan bensin kelas paling top, yakni Pertamax Turbo atau Shell V-Power Nitro+.
Bobibos diklaim ramah lingkungan, mampu menekan emisi hingga mendekati nol dan konsumsinya lebih irit dibanding dengan BBM lain yang ada di Indonesia.
Diberitakan pula bahwa bahan bakar ini telah memiliki paten dan lulus uji sertifikasi dari Lemigas, meskipun Lemigas membantah telah memberi sertifikat, karena yang diajukan adalah uji laboratorium terbatas.
Poin yang paling menarik dalam berbagai berita dan podcast adalah klaim biaya produksinya Rp. 7.000 per liter dan dijual dengan harga dibawah Rp. 10.000 per liter.
Sontak berita ini menyebar secepat kilat melalui media mainstream maupun berbagai platform medsos. Semua lapisan masyarakat menaruh harapan besar, mulai dari pengemudi ojol, influencer medsos, sejumlah anggota DPR, bahkan Gubernur Jawa Barat KDM pun menyambut antusias dan meng-endorse Bobibos.
Di sejumlah media online dan medsos sampai-sampai Bobibos digadang-gadang bakal membawa Indonesia kepada kedaulatan energi dan tidak perlu mengimpor BBM fosil lagi.
Bobibos itu BBM hidrokarbon atau alkohol?
Sejauh ini belum ada formulasi atau spesifikasi teknis resmi yang transparan dari Bobibos. Dengan alasan rahasia bisnis dan intellectual property, maka informasi ilmiah belum pernah diungkapkan.
Satu-satunya informasi yang diumumkan adalah bahan utamanya berasal dari jerami, sedangkan bahan baku lain seperti komposisi enzim, katalisator dan aditif lain pun disamarkan dengan istilah “serum”, sebuah istilah yang tak lazim dipakai dalam industri migas dan biofuel.
Bagaimana proses produksinya juga tidak dijelaskan, hanya dikatakan Bobibos diproduksi secara biokimia dalam lima tahap, menggunakan mesin buatan sendiri.
Misteri komposisi Bobibos yang nampak disengajakan oleh penggagasnya tak pelak mengundang pertanyaan apakah Bobibos merupakan BBM berbasis hidrokarbon ataukah alkohol.
Dalam beberapa kesempatan Bobibos disebut sebagai biogasoline. Istilah biogasoline secara ilmiah mengindikasikan Bobibos adalah bahan bakar hidrokarbon. Tapi benarkah demikian?
Jerami memang bisa diubah menjadi bensin yang benar-benar merupakan hidrokarbon, yakni senyawa yang tersusun dari karbon dan hidrogen.
Pada tahap awal jerami diperlakukan sebagai biomassa lignoselulosa. Proses selanjutnya adalah tahap deoksigenasi (membuang O dan menambah H) melalui beberapa opsi teknologi, antara lain:
Gasifikasi dan Fischer-Tropsch → saat ini teknologinya paling matang untuk skala besar, hasilnya 100% hidrokarbon drop-in (bisa langsung dicampur dengan bensin fosil).
Pirolisis Cepat dan hydrotreating → lebih murah investasinya, banyak dipakai di negara berkembang.
Oligomerisasi Alcohol-to-Gasoline (ATG) → menghasilkan bensin sintetis yang memenuhi standar ASTM D4814 (spesifikasi bensin mobil).
Semua opsi di atas perlu investasi dan biaya proses tinggi yang hanya bernilai ekonomis bila skala produksinya tinggi.
Sebagai contoh proses pirolisis cepat mempunyai Minimum Fuel Selling Price (MFSP) per liter sebesar USD 1.8 hingga USD 2.1 jika diproduksi lebih rendah dari 2000 ton per hari.
Bobibos dikatakan tidak mengandung campuran bahan bakar fosil atau aditif lainnya dan mempunyai RON 98.1. Bila Bobibos adalah BBM hidrokarbon, maka RON 98.1 hanya bisa dicapai melalui proses pirolisis cepat dengan katalisator yang mahal atau dengan proses oligomerisasi ATG yang perlu investasi dan biaya operasional tinggi.
Oleh karena itu klaim bahwa Bobibos biaya produksinya rendah perlu dikritisi, apalagi berdasarkan fakta skala produksinya yang rendah.
Dugaan lain yang lebih sesuai fakta adalah Bobibos bukanlah hidrokarbon, melainkan alkohol, dalam hal ini etanol.
Ada fenomena menarik bila diamati dari pemberitaan Bobibos yang sepertinya menghindari kata kunci etanol. Mungkin ini disebabkan adanya stigma negatif etanol dari masyarakat gegara kasus mesin sepeda motor yang “berebet” setelah diisi Pertalite dan dicurigai mengandung etanol yang bisa mengikat air.
Kecurigaan yang salah tentu saja. Pertamina hanya menggunakan etanol E5 pada BBM Pertamax Green, namun sentimen konsumen terhadap etanol sudah terlanjur memburuk. Ditambah lagi kebijakan ESDM yang memaksa SPBU swasta membeli base fuel yang mengandung etanol dari Pertamina ditolak oleh Shell, membuat etanol semakin dibenci.
Mengubah jerami menjadi etanol (C₂H₅OH) dalam bentuk bioetanol selulosa adalah teknologi yang sudah diteliti sejak puluhan tahun lalu di seluruh dunia.
Dalam konteks global, bioetanol dari biomassa bukanlah hal baru. Di sejumlah negara, termasuk Indonesia, sudah banyak pabrik yang berproduksi secara komersial. Di Brasil semenjak 1975 sudah ada program nasional “Pro-Alcool” yang menggalakkan penggunaan bioetanol.
Di Indonesia sendiri saat ini setidaknya sudah ada 4 pabrik fuel-grade bioetanol. Namun teknologi tersebut umumnya menghasilkan etanol anhidrat, bukan langsung menghasilkan BBM siap pakai yang sesuai standar industri otomotif dan regulasi migas.
Bioetanol bila hendak dijadikan BBM dengan RON tinggi memerlukan proses lanjutan, tidak cukup hanya dengan fermentasi dan destilasi sederhana. Proses pemurnian etanol hingga menjadi etanol anhidrat memerlukan proses dehidrasi dengan molecular sieve dan membrane drying yang biaya investasi peralatan dan operasionalnya mahal.
Klaim vs Fakta Industri
Ikhlas Thamrin menyebutkan diperlukan bahan baku jerami 9 ton untuk memproduksi Bobibos sebanyak 3.000 liter, atau 333 liter per ton jerami.
Data dari perusahaan bioetanol asal Swiss Clariant memerlukan 250.000 ton jerami untuk produksi etanol sebanyak 50.000 ton atau setara 62 juta liter etanol. Artinya pabrik etanol Clariant yang berskala besar dan sangat canggih saja hanya dapat menghasilkan 248 liter per ton jerami, masih kalah dengan Bobibos.
Hampir mustahil Bobibos yang dibuat di Jonggol sebagai industri rumahan dengan kapasitas produksi 300 liter per hari mengalahkan tingkat efisiensi Clariant yang mempunyai skala produksi 147.000 liter per hari.
Biaya produksi Rp. 7.000 per liter juga patut dipertanyakan karena harga jerami kering saja bisa mencapai Rp. 1.500 per kg, artinya biaya bahan baku saja sudah melebihi setengah total biaya produksi, yakni Rp. 4.500 per liter, itupun dengan asumsi pembelian dalam jumlah besar dan tidak menghitung biaya transportasi.
Belum lagi ditambah biaya produksi semenjak dari pre-treatment, fermentasi, destilasi dan dehidrasi. Biaya paling mahal ada pada proses pre-treatment dan dehidrasi.
Jika ditambah dengan biaya material pendukung, CapEx, OpEx, biaya distribusi, margin keuntungan dan pajak maka mustahil Bobibos bisa dijual dengan harga di bawah Pertalite.
Di media sosial bahkan beredar narasi bahwa Bobibos dijual dengan harga Rp. 4.000. Dari sini sulit disimpulkan bahwa kandungan Bobibos adalah etanol anhidrat yang mempunyai tingkat kemurnian tinggi karena biaya produksinya tidak sesuai dengan fakta industri.
Dugaan yang lebih realistis
Bila ditinjau dari klaim harga dan RON 98.1 maka hampir tidak mungkin Bobibos merupakan BBM hidrokarbon murni. Lebih besar kemungkinannya Bobibos adalah BBM bioetanol.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Bobibos merupakan bioetanol berkualitas fuel-grade? Sepertinya Bobibos bukan bioetanol berkualitas fuel-grade karena RON nya 98.1, dibawah RON 108-112 yang merupakan standar dari etanol berkualitas fuel grade.
Nilai RON 98.1 memunculkan dugaan komposisi Bobibos adalah bioetanol dengan kadar air yang masih tinggi, yakni dengan kemurnian antara 92-93 %, alias bioetanol yang kualitasnya lebih rendah dari standard industri fuel-grade ethanol. Menurut SNI 7390-2019 kemurnian minimal bioetanol anhidrat adalah 99.6 %
Rekam Jejak Penemuan Penggagas Bobibos
Tokoh sentral yang dikenal oleh publik sebagai penemu Bobibos adalah M. Ikhlas Thamrin seorang alumnus Fakultas Hukum UNS. Sosoknya adalah seorang anak muda yang mempunyai berbagai macam inisiatif yang tidak berkaitan dengan disiplin ilmu hukum.
Pada tahun 2015 dia “menemukan” kompor pulsa dan motor pulsa Freeneg. Penemuannya ini diklaim sudah dipatenkan ke ICTT dan PBB. Kompor Pulsa Freeneg yang diklaim sebagai kompor pulsa pertama di dunia karya anak bangsa yang menjadi pengganti tabung gas dengan cukup membeli pulsa token di Koperasi Duta Omind.
Kompor ini dapat menyala dengan pulsa, dan tidak tergantung dengan listrik PLN.

Kompor pulsa merk Freeneg hasil penemuan Ikhlas Thamrin
Menurut klaimnya lagi, motor listrik pulsa adalah teknologi yang memungkinkan pengguna menyalakan perangkat hanya dengan mengisi pulsa token, tanpa memerlukan stasiun pengisian listrik umum. Dua produk ini launching pada tanggal 17 Agustus tahun 2022, konon sebagai hadiah dari anak bangsa, yaitu bentuk kecintaan mereka terhadap negerinya.
Ada juga penemuan karya anak bangsa lain yaitu mesin air minum udara Freeneg yang ternyata adalah rebranding produk Kusatsu KP50S. Produk penemuan lainnya adalah Talis yang diklaim sebagai tabung listrik pertama di dunia karya Indonesia sebagai solusi atas krisis energi listrik, padahal produk ini sebenarnya adalah AC Power Bank biasa. Mardigu Wowiek turut mempromosikan produk ini dengan klaim bombastis.
Belum selesai dengan Bobibos, Ikhlas Thamrin menjanjikan penemuan spektakuler lainnya, yaitu “serum battery” yang akan membuat mobil listrik tidak perlu di-charge.
Tanggapan Publik
Respons publik mayoritas menganggap Bobibos sebagai penemuan baru yang spektakuler, heroik, karya anak bangsa yang inovatif, jenius dan nasionalis.
Tak lama kemudian setelah riuh kampanye Bobibos dalam pemberitaan dan media sosial, muncullah narasi bahwa Bobibos akan dihadang oleh elit global, oligarki, dan mafia migas. Dengan serta merta Pemerintah dicap bakal menghambat Bobibos karena pejabat pemerintah yang korup gak akan mendapat cuan, orang pintar gak dihargai di negeri sendiri, Pertamina akan bangkrut dan lain sebagainya.
Sebagian netizen yang mengkritiknya ada yang dibully, dihujat, dan ditanyai sudah punya prestasi apa sampai berani mengkritik Bobibos.
Sebagian besar masyarakat awam menyanjungnya dan mempercayai semua klaim seakan Bobibos adalah mukjizat teknologi, meskipun sebagian lagi ada yang skeptis, sebab pemberitaan bombastis tentang Bobibos terdengar too good to be true.
Prank penemuan dengan branding “karya anak bangsa”
Bobibos adalah produk yang nyata dan sudah diperagakan penggunaannya dalam beberapa konferensi pers. Namun sebaiknya kita tetap skeptis secara positif dan belajar pada rekam jejak kejujuran ilmiah penggagasnya dalam “penemuan-penemuan” spektakuler sebelumnya, juga kasus-kasus lama mengenai produk dengan branding penemuan “karya anak bangsa”, agar tidak mudah mempercayai klaim-klaim berlebihan yang dibuat tanpa bukti yang valid.
- Kasus Blue Energy
Kasus ini berpusat pada Djoko Suprapto yang mengklaim menciptakan teknologi bahan bakar baru bernama “Blue Energy” sekitar tahun 2006–2008.
Ia menyatakan bahwa:
- Blue Energy dibuat dari air,
- dapat menjadi bahan bakar alternatif beroktan tinggi,
- murah, ramah lingkungan,
- bisa membuat Indonesia bebas dari BBM fosil.
Klaimnya tidak disertai bukti ilmiah, tidak pernah diuji oleh lembaga independen, dan terdengar seperti overclaim pseudo-science.
Pada tahun 2008, penemu Blue Energy diundang ke Istana Negara dan melakukan demo teknologi di depan Presiden SBY serta beberapa menteri dan mendapat bantuan Rp. 10 miliar dari Presiden SBY. Temuan Joko ini bahkan sudah dipamerkan dalam ekspedisi Jakarta-Bali menjelang United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) Desember 2007 di Bali.
Pada tanggal 22 Januari 2009, Djoko Suprapto divonis 3,5 tahun penjara karena penipuan blue energy. Kasus ini sebenarnya memalukan bangsa Indonesia karena seorang Presiden sampai bisa kena prank dari sebuah pseudo-science.
- Kasus Nikuba
Nikuba (singkatan dari Niku Banyu) adalah alat yang diklaim bisa mengubah air menjadi bahan bakar untuk sepeda motor atau mobil. Alat ini diciptakan oleh seorang pria tamatan SMP asal Cirebon bernama Aryanto Misel.
Melalui media sosialnya ia menyebut bahwa satu tetes air rata-rata bisa untuk menjalankan sepeda motor sejauh 45-50 kilometer.
Ia mengklaim bahwa:
- Alatnya membuat kendaraan hemat 90–100% BBM.
- Mengubah air menjadi hidrogen murni sebagai pengganti BBM, dengan efisiensi 100% (hanya butuh air dan sedikit listrik awal dari aki).
- Harga terjangkau: Satu unit Nikuba dibanderol Rp 4,5 juta, dan bisa dipasang pada motor atau mobil.
- Teknologi ini diminati aparat sampai TNI.
Klaim ini membuat publik penasaran dan kemudian berkembang menjadi viral.
BRIN menyatakan bahwa konsep Nikuba yang diajukan Aryanto tidak benar-benar menghasilkan hidrogen murni seperti klaim “bahan bakar dari air”, melainkan lebih mirip generator HHO / “gas Brown”. Klaimnya tidak sesuai hukum fisika, Nikuba mengaku “membelah molekul air menjadi hidrogen tanpa listrik besar”.
Padahal faktanya:
- Elektrolisis air memerlukan energi besar.
- Tidak ada cara “murah” atau “ajaib” yang bisa mengganti BBM tanpa input energi setara.
- Prinsip “energi gratis” bertentangan dengan konservasi energi.
Peran media dalam pemberitaan inovasi sains-teknologi dalam negeri
Dapat dikatakan seluruh media mainstream memberitakan Bobibos dengan citra yang nyaris sempurna tanpa cacat. Media kebanyakan lalai melakukan riset mendalam terkait basis sains dan latar belakang ilmuwan atau penemu terkait.
Media lebih sering memanfaatkan bias publik terhadap narasi “mukjizat teknologi” seperti:
- “penemuan baru yang disembunyikan”,
- “solusi murah untuk masalah besar”,
- “inovasi lokal yang diabaikan”.
Prakarsa Bobibos yang memproduksi BBM alternatif dengan jerami adalah tindakan yang positif dan tentunya layak didukung. Namun kampanye yang bombastis dan cenderung misleading dan mengakibatkan publik salah persepsi, mudah percaya begitu saja atas semua klaim yang disampaikan.
Media kita kerap memperlakukan hal-hal terkait sains, terutama yang datangnya dari dalam negeri, sebagai sesuatu yang otomatis layak dibuat bombastis.
Belajar dari sejarah kehebohan penemuan di Indonesia yang selalu menggunakan label “hasil karya anak bangsa”, sebaiknya pers ikut mendidik masyarakat awam agar tidak mudah percaya pada prank penemuan teknologi, atau dalam beberapa kasus menjadi korban penipuan.
Media hendaknya tidak ikut menyebarkan klaim teknologi yang belum teruji, menggunakan momen viral untuk mendorong edukasi sains, mengarahkan publik pada informasi kredibel, mendukung riset sungguhan, bukan klaim sensasional.
Harapan lainnya, agar masyarakat tidak termakan isu-isu hoax seputar inovasi sains di negeri sendiri.
Sekali lagi hendaknya prakarsa masyarakat membuat bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, terbarukan dan ekonomis mendapatkan apresiasi yang layak oleh semua stake holder masalah energi di Indonesia.
Namun di sisi lain hendaknya media, ilmuwan dan pemerintah memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah kegocek oleh euforia dan branding “karya anak bangsa”, kemudian menjadi korban pembodohan atau bahkan penipuan.
Noor Hilmi, pemerhati teknologi, alumni ITB










