Saya sering bertanya pada diri sendiri: mengapa begitu sulit mempercayai suara-suara lantang di ruang publik?
Bukan karena saya sinis sejak awal, melainkan karena sudah terlalu sering saya melihat kata-kata yang indah tidak diikuti keberanian “membayar harga”.
Ketulusan, bagi saya bukan soal seberapa keras seseorang berbicara, tetapi apa yang tetap ia lakukan ketika bicara itu merugikan dirinya sendiri.
Di titik itulah sang waktu bekerja sebagai hakim yang sunyi namun adil.
**
Nelson Mandela memberi contoh yang jarang ditiru.
Ia bisa memilih balas dendam setelah puluhan tahun dipenjara, tetapi justru memilih rekonsiliasi – pilihan yang tidak populer, berisiko, dan menyakitkan secara personal.
Ia kehilangan kesempatan menjadi pahlawan yang memuaskan amarah massa, tetapi memperoleh sesuatu yang lebih mahal: keutuhan moral.
Ketulusan Mandela bukan lahir dari retorika, melainkan dari kesediaannya menanggung konsekuensi demi nilai yang ia yakini.
**
Sebaliknya, figur oportunis mudah dikenali bukan dari apa yang ia ucapkan, tetapi dari kelenturan prinsipnya.
Sikapnya berubah seiring angin politik, keberpihakannya bergeser mengikuti peluang, dan kesalahan selalu punya kambing hitam.
Ia tampak berani ketika aman, vokal ketika kamera menyala, dan menghilang saat konsistensi menuntut pengorbanan.
Saya TIDAK menuntut kesempurnaan dari siapa pun.
Yang saya rindukan hanyalah kejujuran arah: berkata ke mana akan melangkah, lalu benar-benar berjalan ke sana, meski pelan dan sepi.
**
Ketulusan memang tidak viral.
Ia tidak pandai mengundang algoritma.
Namun justru karena itulah ia layak dirindukan.
Pada akhirnya, _sang waktu_ akan membuka segalanya.
Tetapi waktu hanya berbicara bagi mereka yang bersedia bertahan.
**
Dan jika hari ini saya masih rindu pada ketulusan di ruang publik, itu mungkin tanda sederhana bahwa saya belum menyerah, bahwa saya masih percaya, suara yang jujur, meski sunyi, tetap punya arti.***
Surabaya, 14 Desember 2025.
Basuki Suselo, lahir di Kudus, 1954. Alumnus Teknik Sipil Unpar Bandung, sejak tahun 1983 tinggal di Surabaya (merindukan ketulusan yang mulai langka).










