{"id":943,"date":"2026-08-12T10:57:27","date_gmt":"2026-08-12T03:57:27","guid":{"rendered":"https:\/\/etiks.id\/?p=943"},"modified":"2026-08-12T10:59:07","modified_gmt":"2026-08-12T03:59:07","slug":"100-itu-milik-tuhan-dan-99-milik-saya-ketika-nilai-tuhan-diukur-dengan-kesombongan-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/etiks.id\/?p=943","title":{"rendered":"100 Itu Milik Tuhan dan 99 Milik Saya? &#8211; Ketika Nilai Tuhan Diukur dengan Kesombongan Manusia"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Bahwa saya ini termasuk susah kasih nilai. Ya&#8230; karena apa? 100 itu milik Yang Maha Kuasa, ya kan\u2026 99 itu milik Presiden Republik Indonesia ya kan\u2026&#8221;&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu tepuk tangan hadirin pun membahana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernyataan Presiden Prabowo Subianto itu muncul dalam pidato saat acara&nbsp;<a href=\"https:\/\/harian.disway.id\/read\/961752\/prabowo-nilai-100-milik-yang-maha-kuasa-nilai-99-milik-presiden-republik-indonesia\">peluncuran buku sekaligus ulang tahun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia<\/a>&nbsp;(7 Agustus 2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sepintas ungkapan tadi terdengar seperti kerendahan hati religius, yang lazim diucapkan dalam retorika publik oleh seorang pejabat Indonesia. &#8220;Kesempurnaan hanya milik Tuhan&#8221; adalah ungkapan umum untuk menjustifikasi kenapa penilai manusia tidak boleh memberi nilai maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kenapa tetap terasa janggal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalahnya bukan pada logika &#8220;100 milik Yang Maha Kuasa (Tuhan)&#8221;, tapi pada lompatan berikutnya \u2014 bukan &#8220;99 milik manusia pada umumnya&#8221;, melainkan lebih ekstrim lagi: &#8220;99 milik Presiden Republik Indonesia&#8221; secara spesifik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini mengubah kesan pernyataan dari kerendahan hati generik menjadi klaim bahwa dialah, dalam kapasitasnya sebagai presiden, adalah otoritas penilai tertinggi kedua setelah Tuhan. Ini adalah sebuah personifikasi jabatan yang terdengar&nbsp;<em>megalomaniak&nbsp;<\/em>meski mungkin tidak dimaksudkan begitu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan logika kalimat tersebut. Jika Tuhan = 100 dan seorang manusia = 99, maka secara matematis jaraknya hanya 1 poin.&nbsp;Seolah-olah ada seorang manusia yang hanya kurang sedikit nilainya dari Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara matematis ini mengandaikan bahwa kesempurnaan Tuhan dan manusia berada pada satu skala kuantitatif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada &#8220;total kesempurnaan&#8221; yang dapat diukur; kesempurnaan Tuhan dapat dibagi menjadi bagian-bagian dan ada manusia yang memiliki 99% dari kesempurnaan Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ungkapan yang problematik secara Aqidah&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu prinsip paling fundamental dalam ajaran aqidah ahlussunah wal jama&#8217;ah Asy&#8217;ariyah adalah sifat Allah&nbsp;<em>mukhalafatu lil hawaditsi<\/em>&nbsp;(Allah tidak menyerupai makhluk-Nya) dalam segala hal, termasuk dalam kategori-kategori yang berlaku bagi makhluk seperti kuantitas, ukuran, dan gradasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kenapa kuantifikasi nilai ini bermasalah secara ushuluddin?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bilangan adalah kategori makhluq (ciptaan), bukan kategori ilahiyyah. Angka mengandaikan&nbsp;<em>jins<\/em>&nbsp;(genus) atau skala bersama yang memungkinkan perbandingan, yakni sesuatu diukur relatif terhadap sesuatu yang lain dalam satuan yang sepadan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal dalam Surah asy-Syura 11 Allah SWT berfirman:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" style=\"font-size:24px\">\u0644\u064e\u064a\u0652\u0633\u064e \u0643\u064e\u0645\u0650\u062b\u0652\u0644\u0650\u0647\u0656 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064c\u06da<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ayat al-Qur&#8217;an menutup kemungkinan ini di akar permasalahannya: tidak ada sesuatu pun yang sepadan&nbsp;<em>(mumatsalah)<\/em>&nbsp;dengan Allah sehingga bisa dijadikan skala pembanding.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitu seseorang menaruh Allah di titik &#8220;100&#8221; pada sebuah skala 0\u2013100, secara logis sudah menempatkan-Nya dalam sebuah ruang pengukuran bersama dengan entitas lain yang bisa menempati 99, 98, dst.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ungkapan itu sendiri sudah merupakan bentuk&nbsp;<em>tasybih<\/em>&nbsp;konseptual, yakni menyamakan kedudukan Dzat Allah dengan makhluk dalam satu kontinum yang sama, meski Allah ditaruh di ujung tertinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesempurnaan Allah SWT bersifat dzati dan mutlak, bukan derajat tertinggi dalam sebuah spektrum.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ajaran ahlussunah wal jama&#8217;ah, sifat-sifat Allah (<em>ilmu, qudrah, iradah<\/em>, dst.) tidak dipahami sebagai &#8220;yang paling banyak\/ paling tinggi&#8221; dibanding makhluk \u2014 itu justru cara pikir kaum&nbsp;<em>Mu&#8217;tazilah&nbsp;<\/em>yang cenderung menaruh Allah pada ujung spektrum yang sama dengan makhluk (dengan nilai tak terhingga).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ajaran ahlussunnah wal jama&#8217;ah Asy&#8217;ariyah menegaskan sifat Allah&nbsp;<em>qadim<\/em>&nbsp;dan berbeda secara kategoris (bukan gradual) dari sifat makhluk yang&nbsp;<em>hadits<\/em>. Maka kesempurnaan-Nya bukan &#8220;100 dari 100&#8221;, melainkan sesuatu yang berada di luar logika skala sama sekali \u2014 tidak ada kesepadanan\/&nbsp;<em>commensurable<\/em>, titik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Konsep bi la kayfa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam tradisi ahlussunah wal jama&#8217;ah klasik (Imam Malik, al-Asy&#8217;ari, al-Ghazali, as-Sanusi dll), pembahasan sifat Allah selalu berhenti pada penetapan makna tanpa menanyakan atau menggambarkan &#8220;bagaimana&#8221; (<em>kayfiyyah<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuantifikasi numerik justru memaksakan sebuah&nbsp;<em>kayfiyyah<\/em>&nbsp;(cara\/ bentuk) tertentu atas sesuatu yang secara prinsip dinyatakan&nbsp;<em>bila kayfa.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungan antara Khaliq dan makhluk bukan seperti dua manusia yang dibandingkan dalam kompetisi. Allah SWT tidak memiliki &#8220;nilai kesempurnaan 100&#8221; sementara ada seorang manusia memiliki &#8220;nilai 99&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persoalannya adalah cara berpikir yang menempatkan nilai (kesempurnaan) Khaliq dan nilai makhluk dalam satu skala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesempurnaan Allah tidak membutuhkan angka. Dan kesempurnaan manusia tidak pernah mendekati kesempurnaan Allah dalam pengertian yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Allah SWT adalah Maha Sempurna secara mutlak, sedangkan manusia memiliki kesempurnaan dalam batas kemakhlukannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah sebabnya ungkapan yang lebih tepat bukan \u201cAllah 100, saya 99\u201d, melainkan:&nbsp;\u201cAllah memiliki kesempurnaan mutlak, sedangkan manusia hanya memiliki kesempurnaan yang terbatas dan diberikan oleh Allah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Nabi Muhammad \ufdfa tidak menempatkan dirinya seperti itu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini sangat menarik karena meskipun Nabi \ufdfa adalah manusia paling mulia, tetapi beliau tetap menegaskan posisi kehambaannya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" style=\"font-size:24px\">\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064c\u060c \u0641\u064e\u0642\u064f\u0648\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f\u0647\u064f<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(HR. Bukhari)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi semakin tinggi kedudukan seorang manusia di sisi Allah, semakin sempurna pula pengakuannya terhadap kehambaan dan kefaqirannya kepada Allah, bukan semakin tinggi klaim kesempurnaan dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada paradoks spiritual dalam Islam:&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.&nbsp;Sebaliknya semakin seseorang merasa dirinya hampir tidak membutuhkan Allah, semakin besar masalah dalam dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ucapan Prabowo memang bukan proposisi teologis formal, tapi \u201c100\u201d disitu nampaknya dipakai sebagai idiom umum (\u201cnilai sempurna = 100\u201d diadopsi dari sistem penilaian sekolah).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun bahkan sebagai majaz atau retorika sekalipun, ungkapan itu secara struktural tetap merupakan logika kuantifikasi-komparatif yang bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal jama\u2019ah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara implisit dia menyandingkan otoritas presidensial dengan otoritas Ilahi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ungkapan seperti itu sebenarnya kurang patut jika dilihat dari kacamata etika politik, apalagi itu dilakukan di ruang publik dan disambut tepuk tangan.&nbsp;Bila ditarik lebih jauh lagi secara&nbsp;<em>epistemologi-teologis<\/em>&nbsp;ke ranah aqidah\/ ushuluddin sudah pasti ungkapan ini bermasalah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>Noor Hilmi<\/em><\/strong><em>&nbsp;&#8211; anggota redaksi&nbsp;<\/em><a href=\"http:\/\/inharmonia.id\/\"><em>inharmonia.id<\/em><\/a><em>&nbsp;dan&nbsp;<\/em><a href=\"http:\/\/etiks.id\/\"><em>etiks.id<\/em><\/a><em>&nbsp;<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Bahwa saya ini termasuk susah kasih nilai. Ya&#8230; karena apa? 100 itu milik Yang Maha Kuasa, ya kan\u2026 99 itu milik Presiden Republik Indonesia ya kan\u2026&#8221;&nbsp; Lalu tepuk tangan hadirin pun membahana. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto itu muncul dalam pidato saat acara&nbsp;peluncuran buku sekaligus ulang tahun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia&nbsp;(7 Agustus 2026). Sepintas ungkapan tadi<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":944,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-943","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/943","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=943"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/943\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":946,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/943\/revisions\/946"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/944"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=943"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=943"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=943"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}