{"id":901,"date":"2026-05-30T11:48:06","date_gmt":"2026-05-30T04:48:06","guid":{"rendered":"https:\/\/etiks.id\/?p=901"},"modified":"2026-05-30T11:48:30","modified_gmt":"2026-05-30T04:48:30","slug":"benarkah-presiden-prabowo-adalah-seorang-amirul-mukminin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/etiks.id\/?p=901","title":{"rendered":"Benarkah Presiden Prabowo Adalah Seorang Amirul Mukminin?"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Asrorun Niam, terkait pembelian sapi kurban Presiden Prabowo Subianto sebanyak 1098 ekor menggunakan anggaran negara sebesar 100 miliar rupiah&nbsp;<a href=\"https:\/\/mui.or.id\/baca\/berita\/mui-secara-syari-presiden-beli-sapi-qurban-pakai-banpres-tidak-masalah\">mengatakan<\/a>: &#8220;Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa disunahkan bagi imam, dalam konteks Indonesia adalah Presiden, membeli hewan kurban melalui Baitul Mal (kas negara),\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernyataan Asrorun Niam ini sangat menarik dan serius. Mari kita bedah dua hal berbeda dimana dua-duanya bermasalah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Masalah 1: Klaim Hadits Bukhari yang Tidak Ada<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini masalah yang paling serius secara akademik. Masalahnya hadits dengan substansi seperti itu tidak ada dalam Shahih Bukhari. Ini bukanlah perkara interpretasi tapi ini adalah perkara ada atau tidaknya teks.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat&nbsp;<em>\u201cDisunnahkan bagi penguasa kaum muslimin atau imam mereka untuk berkurban dari Baitul Mal atas nama kaum muslimin.\u201d<\/em>&nbsp;adalah berasal dari kitab \u201c\u0627\u0644\u0641\u0642\u0647 \u0627\u0644\u0645\u0646\u0647\u062c\u064a \u0639\u0644\u0649 \u0645\u0630\u0647\u0628 \u0627\u0644\u0625\u0645\u0627\u0645 \u0627\u0644\u0634\u0627\u0641\u0639\u064a\u201d (Al-Fiqhul Manhaji \u2018ala Madzhab al-Imam as-Syafi\u2018i) yang pertama kali diterbitkan Darul Qalam Damaskus tahun 1978.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini adalah&nbsp;<strong>pendapat ulama kontemporer<\/strong>, bukan hadits Nabi, bukan pula perkataan Imam Syafi&#8217;i.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau ditelusuri lebih jauh sebenarnya memang ada pendapat Imam Mawardi (wafat 450 H) dalam Al-Hawi al-Kabir&nbsp;yang mengatakan bahwa khalifah boleh berkurban dari Baitul Mal untuk rakyat, meskipun beliau tidak menghukuminya sebagai sunnah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu&#8217; juga mengutip pendapat Imam Mawardi ini sebagai salah satu pandangan dalam madzhab Syafi&#8217;i, bukan sebagai hadits Bukhari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kita telusuri dalam kitab Shahih Bukhari hadits yang terkait qurban pemimpin adalah hadits Ali bin Abi Thalib soal pembagian daging kurban Nabi, bukan soal pembelian hewan dari kas negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi Asrorun melakukan kesalahan fatal: menyebut sesuatu sebagai &#8220;diriwayatkan Imam Bukhari&#8221; seolah kalimat itu adalah sabda Nabi Muhammad SAW, padahal itu adalah pendapat fuqaha, bukan hadits. Ini dalam terminologi ulama hadits disebut mendekati&nbsp;<em><strong>tadlis<\/strong><\/em>&nbsp;(penipuan) atau setidaknya kecerobohan ilmiah yang sangat berat dari seorang Ketua Bidang Fatwa MUI yang notabene bergelar guru besar ilmu fiqih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Masalah 2: Analogi Presiden = Imam \/ APBN = Baitul Mal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Analogi ini bermasalah secara konstitusional.&nbsp;<a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-8507528\/mui-sebut-tak-masalah-sapi-kurban-presiden-pakai-banpres-apbn\">Asrorun menyebut<\/a>&nbsp;bahwa APBN bertindak sebagai &#8220;Baitul Mal modern&#8221; dan qurban yang dilakukan presiden menggunakan APBN pada hakikatnya adalah qurban atas nama negara untuk kesejahteraan rakyat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan&nbsp;<strong>seandainya<\/strong>&nbsp;kita menerima qiyas ini secara fiqih pun, masih ada syarat yang tidak terpenuhi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Baitul Mal dalam\u00a0<em>fiqih siyasah<\/em>\u00a0dikelola oleh Amirul Mukminin\/ Khalifah\/ Imam atas kaum Muslimin, bukan kepala negara pluralis<\/li>\n\n\n\n<li>Distribusinya punya aturan syariat yang ketat \u2014 bukan sekadar\u00a0<em>political branding<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>APBN dibiayai pajak seluruh warga, termasuk non-Muslim. Menggunakannya untuk syi&#8217;ar ibadah Islam secara eksklusif justru merusak prinsip keadilan konstitusional.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lantas benarkah Presiden Prabowo Subianto adalah seorang Amirul Mukminin\/ Khalifah\/ Imam atas kaum muslimin? Mari kita lihat dua aspek berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Basis Legitimasi yang Berbeda Secara Fundamental<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amirul Mukminin mendapatkan otoritasnya dari:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kepemimpinan atas umat (komunitas beriman), bukan warga negara<\/li>\n\n\n\n<li>Bai&#8217;at (pengakuan kesetiaan) dari ulama dan pemuka umat<\/li>\n\n\n\n<li>Mandat syari&#8217;ah \u2014 ia harus menegakkan hukum Islam<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Presiden Indonesia mendapatkan otoritasnya dari:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Konstitusi sekuler-pluralis (UUD 1945)<\/li>\n\n\n\n<li>Pemilihan umum demokratis<\/li>\n\n\n\n<li>Mandat rakyat seluruhnya, Muslim dan non-Muslim<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Indonesia bukan negara Islam. Presiden tidak dipilih atas dasar agama, dan konstitusi tidak menjadikan syari&#8217;at sebagai sumber hukum tertinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Subjek Kepemimpinan Berbeda<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amirul Mukminin secara definitif adalah pemimpin kaum Muslimin, bukan warga secara keseluruhan. Indonesia memiliki ~87% Muslim, tapi negara melayani 100% warga, termasuk Kristen, Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal. Menyamakan presiden dengan Amirul Mukminin berarti secara implisit meminggirkan warga non-Muslim dari subjek kepemimpinan negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bahaya Politis Analogi Ini<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika analogi ini dinormalisasi, ada implikasi serius:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Legitimasi keagamaan bisa dipakai untuk menghindar dari akuntabilitas konstitusional \u2014 &#8220;jangan kritik pemimpin seperti mengkritik khalifah&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>Pengelolaan APBN bisa dijustifikasi dengan argumen maslahat yang kabur, menggantikan mekanisme DPR dan BPK<\/li>\n\n\n\n<li>Ini membuka pintu bagi otoritarianisme yang dibungkus retorika Islam<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernyataan Asrorun Niam bermasalah di dua lapisan:&nbsp;<strong>klaim hadits yang tidak bisa diverifikasi<\/strong>&nbsp;(tidak ada dalam Kitab Shahih Bukhari) dan&nbsp;<strong>analogi konstitusional yang cacat<\/strong>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang lebih mengkhawatirkan, pernyataan ini tampak lebih berfungsi sebagai legitimasi keagamaan atas kebijakan politik daripada sebagai fatwa yang didasari kajian ilmiah yang jujur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini adalah contoh pejabat atau tokoh agama yang menggunakan retorika syari\u2019ah untuk menutup ruang kritik terhadap kebijakan eksekutif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em><strong>Noor Hilmi &#8211;<\/strong>&nbsp;anggota redaksi inharmonia.id dan etiks.id<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Asrorun Niam, terkait pembelian sapi kurban Presiden Prabowo Subianto sebanyak 1098 ekor menggunakan anggaran negara sebesar 100 miliar rupiah&nbsp;mengatakan: &#8220;Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa disunahkan bagi imam, dalam konteks Indonesia adalah Presiden, membeli hewan kurban melalui Baitul Mal (kas negara),\u201d Pernyataan Asrorun Niam ini sangat menarik dan<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":902,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=901"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/901\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":904,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/901\/revisions\/904"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/902"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}