{"id":642,"date":"2025-12-19T15:30:35","date_gmt":"2025-12-19T08:30:35","guid":{"rendered":"https:\/\/etiks.id\/?p=642"},"modified":"2025-12-19T15:31:24","modified_gmt":"2025-12-19T08:31:24","slug":"banjir-sumatera-80-persen-dipicu-kerusakan-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/etiks.id\/?p=642","title":{"rendered":"Banjir Sumatera 80 Persen Dipicu Kerusakan Lingkungan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-597b24ca47278620a79894d76cc0298b wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\"><a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/lingkungan\/banjir-sumatera-80-persen-dipicu-kerusakan-lingkungan-2100308\"><strong>tempo.co<\/strong><\/a>\u00a0SKALA kerusakan akibat\u00a0banjir\u00a0bandang yang melanda tiga provinsi di\u00a0Sumatera\u00a0tidak sepenuhnya berasal dari cuaca ekstrem. Erma Yulihastin, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan energi dari Siklon Senyar hanya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap kerusakan, sementara 80 persen lainnya dipicu oleh lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-02ab9654def0357a6b29f1d6ce438a18 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">\u201cEnergi dari Siklon Senyar hanya berdampak pada 20 persen dari kerusakan yang ditimbulkan, sisanya lebih banyak disebabkan oleh perubahan lingkungan,\u201d ujar Erma dalam diskusi publik \u201cRisiko Cuaca Ekstrem dan Solusi Ekstrem\u201d yang digelar Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim (JustCOP) secara daring, Kamis, 18 Desember 2025.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-eaf6e009b0f3739a345384908e7b2c82 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya 1.059 orang meninggal, 192 orang masih hilang, dan 147 rumah rusak dalam bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir November lalu. Jumlah korban ini lima kali lebih besar dari jumlah korban siklon Seroja di Nusa Tenggara Timur yang terjadi pada 2021 lalu, meskipun keduanya sama-sama merupakan siklon tropis kategori 3.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-57f789a19f38dafd2b7c6c0d5251089c wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Menurut Erma, besarnya dampak bencana yang menghantam tiga provinsi itu lebih merupakan dampak dari alih fungsi lahan dan tata ruang di Sumatera. Erma mengacu pada jurnal yang diterbitkan American Meteorological Society (Matsui, Lakshmi, Small, 2005) yang menyebutkan bahwa tutupan lahan di darat berpengaruh pada pergerakan badai di laut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-1d2c9e6c62c9d930273566c0589c58ba wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">\u201cKetika tutupan lahan masih terjaga, suhu yang dingin karena ada evaporasi, membuat pergerakan badai menjauh dari daratan,\u201d kata Erma.&nbsp;Sebaliknya, ketika hutan ditebang, lahan menjadi terbuka dan panas, siklon yang terbentuk karena udara panas dari permukaan laut akan mendekat ke daratan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-c40d1b006236124eb6522dbeaabe4386 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Erma memproyeksikan Sumatera menjadi wilayah dengan kerentanan terhadap perubahan iklim tertinggi di Indonesia hingga 20 tahun ke depan. \u201cBerdasarkan 14 model proyeksi hingga 2040, wilayah terutama di Sumatera Utara dan Riau menjadi wilayah yang paling rentan terhadap hujan dan angin ekstrem pada periode Desember hingga Januari. Untuk itu, kesiapsiagaan dan persiapan menghadapi bencana harus diperkuat,\u201d katanya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-d465f2e55847d18218ec4c5bf55e29dd wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Farwiza Farhan, Direktur Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) sepakat. Ia mengatakan, Aceh terus kehilangan hutan dalam sepanjang satu dekade terakhir.&nbsp;Menurutnya, sebelum 2010 dan setelah tsunami, Aceh pernah mempunyai rencana tata ruang yang memetakan provinsi mencakup sensitivitas lahan hingga sebaran penduduk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-2763f1016cbf01ccf94babcf9f2aca06 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">\u201cDari pemetaan itu, disebutkan bahwa pembukaan lahan baru akan meningkatkan risiko bencana, karena daya dukung lingkungan sudah mencapai batas maksimal,\u201d kata dia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-ab62e995e525223b94817ae64418a9d8 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Ia juga merujuk pada hasil penelitian Cut Azizah (IPB, 2020) yang menyimpulkan wilayah Aceh Tamiang sangat rentan karena kehilangan banyak Daerah Aliran Sungai (DAS). Penelitian itu mengungkapkan bahwa kerusakan lingkungan akan berdampak pada banjir bandang di 70 persen desa di Aceh Tamiang, juga wilayah Aceh Timur dan Aceh Tenggara. \u201cIni sesuatu yang sudah diketahui sejak lama,\u201d kata Farwiza.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-030b689bd6f74a3ad6bfae1c653de058 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Di Sumatera Utara, wilayah terdampak banjir yang terparah dikelilingi sejumlah industri yang ekstraktif dan eksploitatif. Peneliti Toba Initiative, Delima Silalahi, mengatakan dalam situasi tersebut masyarakat kerap menjadi tumbal pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-c7285322649e7a8d1829d42429c1a570 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Delima mengaku kecewa dengan respons pemerintah yang lambat dalam penanganan bencana ini. Dengan tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, dia mengatakan sangat sulit terkoneksi di antara satu daerah terdampak dengan lainnya. \u201cAir bersih di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan masih sulit. Banyak dari mereka yang mengungsi secara mandiri di bukit-bukit seperti di Angkola,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-f6ed29ead6a46dd595c6e1a5bc5ee965 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Selain kesulitan pendataan korban dan bantuan yang menumpuk, Delima mengatakan hujan dan banjir yang masih terjadi juga menghambat masuknya bantuan ke wilayah terdampak. \u201cSaat ini solidaritas warga menjadi penopang di lapangan, di mana warga bantu warga agar bisa bertahan,\u201d ujar Delima.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-fb09d68899161adfc94be5f5d3881b96 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, mengungkapkan ironi banjir Sumatera. Hasil penelitian CELIOS mengungkapkan desa dengan sektor tambang mempunyai dampak pencemaran lingkungan dan bencana lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-fc52d1f0f72ef80c2930253a6c9b8d43 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Pada 2018, satu dari dua desa yang bergantung pada sektor tambang akan berpotensi lebih besar terkena banjir dibandingkan desa yang tidak bergantung pada industri ekstraktif. Potensi banjir bagi desa yang tidak bergantung pada sektor tambang adalah satu banding empat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-1e5f072844a257d01367f2a069763e48 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Risiko bencana semakin tinggi karena kebijakan anggaran pemerintah. Huda mengatakan alokasi anggaran penanggulangan bencana hanya sekitar 0,03 persen dari APBN. Menurutnya, anggaran kebencanaan yang dialokasikan menurun drastis dari tahun ke tahun.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-4eaa0ce2f3613be2a3156beff5a8eed8 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Untuk pemulihan provinsi yang terdampak bencana, Huda melihat akan sangat sulit dalam jangka waktu yang pendek. Dia melihat dua dari tiga provinsi, yakni Aceh dan Sumatera Barat, masih sangat bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-26bcab14d024b8af732e815acc90eb72 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">\u201cYang saya khawatirkan adalah Aceh karena ketika ingin membangun kembali sangat bergantung dana transfer daerah. Apalagi tahun depan, dana transfer daerah dipotong,\u201d katanya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-f38436cef55d397055922389cc52c0a3 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">Menurut dia, anggaran pemulihan bencana sebesar Rp 51,82 triliun yang disebut pemerintah belum mencakup pembangunan manusia. \u201cDengan politik anggaran seperti ini, butuh 30 tahun sendiri untuk memulihkan Aceh,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-c84586099f5aadade4d82a5c95d4bf00 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\">&#8220;Pada akhirnya, cuaca ekstrem dan aktivitas industri yang eksploitatif menjadi penyebab bencana, tetapi pertanyaannya ketika bencana terjadi seberapa siap negara melindungi rakyatnya,&#8221; ucap dia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-9a92af7beba5927fcc03e33a5add7785 wp-block-paragraph\" style=\"font-size:16px\"><br><em>Sumber:&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/lingkungan\/banjir-sumatera-80-persen-dipicu-kerusakan-lingkungan-2100308\">https:\/\/www.tempo.co\/lingkungan\/banjir-sumatera-80-persen-dipicu-kerusakan-lingkungan-2100308<\/a><\/em><br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>tempo.co\u00a0SKALA kerusakan akibat\u00a0banjir\u00a0bandang yang melanda tiga provinsi di\u00a0Sumatera\u00a0tidak sepenuhnya berasal dari cuaca ekstrem. Erma Yulihastin, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan energi dari Siklon Senyar hanya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap kerusakan, sementara 80 persen lainnya dipicu oleh lingkungan. \u201cEnergi dari Siklon Senyar hanya berdampak pada 20 persen dari kerusakan yang ditimbulkan, sisanya<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":643,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-642","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/642","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=642"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/642\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":645,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/642\/revisions\/645"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/643"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=642"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=642"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=642"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}