{"id":603,"date":"2025-12-09T17:37:59","date_gmt":"2025-12-09T10:37:59","guid":{"rendered":"https:\/\/etiks.id\/?p=603"},"modified":"2025-12-18T17:41:12","modified_gmt":"2025-12-18T10:41:12","slug":"negara-bubar-di-gerbangnya-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/etiks.id\/?p=603","title":{"rendered":"Negara Bubar di Gerbangnya Sendiri"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-1ec4a7b25a5f7291dc3773848aabd5c0 wp-block-paragraph\">Di suatu sore yang lengang\u2014ketika berita kadang melintas seperti angin malas\u2014dua kabar dari dua titik Indonesia muncul, tidak saling berhubungan, tapi seperti sepasang cermin yang memperlihatkan sesuatu yang lebih tua dari republik ini: seorang pejabat negara yang tiba-tiba tampak ringkih di tempat ia seharusnya paling kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-cbe7463513c7acd9dff705545d28db8e wp-block-paragraph\">Yang pertama datang dari Jakarta, dari ruang rapat Kementerian Keuangan. Purbaya, menteri yang gemar bicara lugas\u2014kadang terlalu lugas bagi selera birokrasi\u2014mengancam akan membubarkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Ia menyebut keluhan-keluhan publik, penyelundupan, pelayanan yang melelahkan, dan sebuah statistik yang menampar: indikator kinerja yang jalan di tempat. Di luar gedung itu, orang-orang bergumam: apakah mungkin sebuah institusi negara yang begitu strategis, yang menjadi gerbang barang-barang keluar masuk, dibubarkan seperti menutup sebuah warung yang tak laris?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-11aeb1c19eaf9375ca27847c72e32833 wp-block-paragraph\">Di kabar lain, lebih jauh dari pusat, ada sebuah bandara yang lebih sunyi dari seharusnya. Bandara IMIP di Morowali\u2014runway lurus yang memanjang di wilayah nikel yang sibuk. Pesawat Airbus bisa mendarat di sana. Tenaga kerja asing bisa keluar-masuk tanpa keramaian. Namun yang paling mencolok justru yang tidak ada.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-9286eb1066f02ffb8921ced9de9bd1dd wp-block-paragraph\">Tidak ada imigrasi. Tidak ada Bea Cukai. Tidak ada Polisi Udara, tidak ada Angkasa Pura, tidak ada pula TNI. Sebuah bandara yang hidup tanpa negara. Seperti rumah besar yang pintunya terbuka, ditinggalkan penghuninya, lalu dikelola oleh tetangga yang kaya dan rajin merawat halaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-fdfe42e060f741811c8b50ec95fc5d54 wp-block-paragraph\"><strong>Apa persamaan antara dua kabar ini?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-e3fb7a5954b4da9232d1c5daa6ad8447 wp-block-paragraph\">Mungkin kita sedang melihat negara yang tidak lenyap, melainkan meluntur. Seperti tulisan yang lama sekali terkena matahari, lambat-lambat memudar hingga bentuknya tinggal samar. Ia masih ada, tapi tak bisa dibaca.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-bd3346152482a8a9120147505c98d673 wp-block-paragraph\">DJBC masih berdiri, lengkap dengan seragam, kantor, dan jargon modernisasi. Tapi negara hadir di situ dengan tubuh yang pincang. Ia melihat pungli, mendengar keluhan importir, mencatat penyelundupan yang lolos seperti debu di celah pintu\u2014namun ia tidak bergerak. Lalu seorang menteri datang, mengetuk meja, mengancam akan menghidupkan kembali SGS, perusahaan Swiss yang dulu disewa Soeharto pada 1985 ketika Bea Cukai dipenuhi cerita-cerita gelap yang tak pernah sepenuhnya dibersihkan oleh sejarah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-5362ce81159568bb7e202f5f9027356e wp-block-paragraph\">Ancaman itu bukan sekadar janji reformasi. Itu pengakuan bahwa negara, di gerbang barangnya sendiri, sedang kalah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-005c67328dbbfaec128e29e21b485de4 wp-block-paragraph\">Di Morowali, negara bahkan tidak mencoba kalah. Ia menyerah. Ia absen dalam senyap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-2c36630198ad315a25d93e33e365f87d wp-block-paragraph\">Kita bisa bertanya, seperti biasa, siapa yang salah. Tapi Indonesia selalu lebih rumit dari pertanyaan-pertanyaan sederhana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-8b47bbe3129baa460a4d2529c9713e55 wp-block-paragraph\">Masalah DJBC bukanlah soal oknum\u2014kata yang terlalu sering kita pakai untuk menyembunyikan banjir di balik setitik hujan. Masalahnya adalah budaya sistemik: sebuah institusi yang terlalu lama hidup dalam kedekatan dengan kuasa informal, dalam relasi panjang antara birokrasi dan kepentingan-kepentingan ekonomi yang rajin menyuapi. Dalam ruang seperti itu, peraturan mudah berubah menjadi negosiasi. Integritas ditukar dengan kehati-hatian agar tidak mengganggu siapa pun yang tak boleh diganggu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-dec5f89cec4b46368840db0fc141f04e wp-block-paragraph\">Maka ancaman bubar itu terdengar seperti teriakan di ruangan yang penuh orang tidur. Nyaring, tapi belum tentu mengubah apa-apa. Karena yang dibutuhkan bukan kemarahan, melainkan pembedahan: digitalisasi yang memaksa, audit yang menyakitkan, pemisahan tugas, dan yang terpenting, kultur baru yang tak lagi menganggap kewenangan sebagai hak mengambil keuntungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-cbd8529ff746ff6f897bf7dce2898bcb wp-block-paragraph\">Tapi di Morowali, masalahnya justru sebaliknya: bukan kehadiran negara yang disfungsional, melainkan ketiadaan negara yang sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-4bfa1c87bea025006ae5da7785c69200 wp-block-paragraph\">Bandara IMIP bukan bandara sembarangan. Ia adalah gerbang utama kawasan industri terbesar di Indonesia, zona yang menggerakkan ratusan triliun rupiah dalam produksi nikel\u2014komoditas strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi global. Di wilayah seperti itu, negara seharusnya hadir dengan seluruh kekuatan simboliknya. Tapi di sana yang ada hanyalah perusahaan: menjemput, mengantar, mencatat, menjaga gerbangnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-b500f1c1281fb3cc162e8b08b45f0247 wp-block-paragraph\">Mereka yang keluar masuk bandara itu melintas tanpa prosedur imigrasi seperti di Jakarta. Barang-barang tertentu bisa bergerak tanpa disaksikan Bea Cukai. Pesawat asing bisa mendarat tanpa negara tahu apa yang dibawa oleh anginnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-cad1718f90c54f23a4e0ecf9cc21f32d wp-block-paragraph\">Dalam politik modern, bandara adalah titik kedaulatan. Ia adalah tempat di mana negara membuktikan bahwa ia ada. Maka bandara tanpa negara bukan sekadar kekurangan SOP. Ia adalah penyerahan kedaulatan tanpa keputusan politik. Sebuah pengakuan senyap bahwa negara tak sanggup mengatur apa yang telah ia buka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-d5135539b14566f103f0d1f1379e7adf wp-block-paragraph\">Di sinilah, mungkin, kedua kisah itu bertemu: DJBC yang mau dibubarkan, dan bandara IMIP yang negara tak pernah hadir untuk dibubarkan atau diperbaiki.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-e19a9d3f53936760c29208ba21a82318 wp-block-paragraph\">Keduanya memperlihatkan hal sama: bahwa negara dapat runtuh tanpa huru-hara, tanpa revolusi, bahkan tanpa ada yang benar-benar menyadarinya. Ia runtuh melalui kelalaian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-e2d7f090784f456d802a67847e32dddf wp-block-paragraph\"><strong>Bagaimana masyarakat harus bersikap?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-245da0dfc305a17330d42e3e964bbc2a wp-block-paragraph\">Dalam kasus DJBC, publik perlu mengingatkan bahwa ancaman pembubaran bukan tujuan. Itu hanya jalan pintas imajinatif ketika suatu lembaga kehilangan kepercayaannya. Yang kita perlukan bukan merobohkan tembok, melainkan memastikan tembok itu lurus\u2014karena tanpa kepabeanan nasional, negara kita akan menggantungkan pintunya pada orang lain. SGS mungkin efisien, seperti dulu. Tapi mereka bukan pemilik rumah ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-f78b5eabf2f86a9dac25b7fb00f93100 wp-block-paragraph\">Transparansi, digitalisasi, audit independen, publikasi waktu layanan, whistleblowing yang diproteksi\u2014itulah yang membuat negara hadir kembali di instansi yang telah terlalu lama nyaman dalam bayangannya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-6314643da4126f802c399a68a14c2ba3 wp-block-paragraph\">Di Morowali, sikap masyarakat harus berbeda. Kita harus menanyakan pertanyaan paling sederhana, yang justru paling sulit dijawab: mengapa negara tidak ada di sana?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-2498745dc237dc3e9472fc48f9c9b36c wp-block-paragraph\">&nbsp;Mengapa kedaulatan udara dapat diprivatisasi dengan begitu mudah, di sebuah kawasan industri yang begitu penting?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-baf786e9f93c43111bad9551db7a8ba3 wp-block-paragraph\">Pertanyaannya bukan tentang Tiongkok, bukan tentang investasi, bukan tentang bandara, bahkan bukan tentang korporasi. Pertanyaannya adalah: di mana negara ketika ia dibutuhkan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-e8a2ec09ff13c0f28a88f3f7a881a5a9 wp-block-paragraph\">Negara tidak seharusnya iri pada efisiensi perusahaan. Negara hanya perlu mengingat bahwa ia tak boleh membiarkan gerbangnya dijaga orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-01f3cba325c3f7d4901028356ed409f0 wp-block-paragraph\">Di antara dua kabar itu, kita melihat garis yang perlahan-pelan ditarik: negara yang hadir tapi tak berdaya, dan negara yang tak hadir karena berutang budi. Kita melihat republik yang berdiri tegak di atas konstitusi, tetapi lututnya lemah di hadapan kekuasaan ekonomi. Kita melihat bagaimana birokrasi bisa menjadi hantu\u2014lengkap dengan struktur, logo, dan seragam\u2014namun melayang tanpa kemampuan untuk benar-benar menyentuh tanah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-1c2b7130f0111904528881713a447ade wp-block-paragraph\">Mungkin, pada akhirnya, inilah pelajaran yang ditawarkan oleh dua gerbang itu: gerbang barang dan gerbang bandara. Negara tidak akan roboh oleh badai besar. Ia roboh oleh retakan kecil yang dibiarkan, oleh celah yang tak pernah ditutup, oleh tugas-tugas sederhana yang dilupakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-6ffa84bc214124a7cd0e7971113b1642 wp-block-paragraph\">Ia roboh ketika kita berhenti meminta negara menjadi negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-395bf77eb5886e39e2f9554c28a6201f wp-block-paragraph\">Dan roboh ketika negara sendiri lupa bahwa ia masih punya rumah yang harus dijaga.***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-2713d6d692187b7f6dca01dbcb3fbcc1 wp-block-paragraph\">Cimahi, 4 Desember 2025<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di suatu sore yang lengang\u2014ketika berita kadang melintas seperti angin malas\u2014dua kabar dari dua titik Indonesia muncul, tidak saling berhubungan, tapi seperti sepasang cermin yang memperlihatkan sesuatu yang lebih tua dari republik ini: seorang pejabat negara yang tiba-tiba tampak ringkih di tempat ia seharusnya paling kuat. Yang pertama datang dari Jakarta, dari ruang rapat Kementerian<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":604,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-603","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/603","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=603"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/603\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":606,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/603\/revisions\/606"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/604"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=603"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=603"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=603"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}