{"id":424,"date":"2025-12-15T19:07:50","date_gmt":"2025-12-15T12:07:50","guid":{"rendered":"https:\/\/etiks.id\/?p=424"},"modified":"2025-12-17T20:48:58","modified_gmt":"2025-12-17T13:48:58","slug":"pemprov-aceh-surati-2-lembaga-pbb-minta-bantuan-tangani-bencana-aceh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/etiks.id\/?p=424","title":{"rendered":"Pemprov Aceh Surati 2 Lembaga PBB, Minta Bantuan Tangani Bencana Aceh"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">BANDA ACEH, KOMPAS.com &#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh menyurati dua lembaga resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu United Nations Development Programme (UNDP) dan UNICEF agar membantu penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Secara khusus Pemerintah Aceh resmi juga telah menyampaikan permintaan keterlibatan beberapa lembaga internasional atas pertimbangan pengalaman bencana tsunami 2004, seperti UNDP dan UNICEF,&#8221; kata Muhammad MTA dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14\/12\/2025). MTA menyebutkan, selain telah menyurati dua lembaga tersebut saat ini juga tercatat sekitar 77 lembaga dengan mengikutsertakan 1.960 relawannya sudah berada di Aceh. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka merupakan lembaga atau NGO lokal, nasional dan insternasional. &#8220;Besar kemungkinan keterlibatan lembaga dan relawan akan terus bertambah dalam respons kebencanaan ini,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehadiran lembaga dan relawan tersebut diharapkan dapat terus memperkuat kerja-kerja kedaruratan dan pemulihan bencana yang sedang berlangsung. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Atas nama masyarakat Aceh dan korban, Gubernur sangat berterima kasih atas niat baik dan konstribusi yang sedang mereka berikan demi pemulihan Aceh ini,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"750\" height=\"500\" src=\"https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-425\" srcset=\"https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image.png 750w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-300x200.png 300w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-150x100.png 150w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-330x220.png 330w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-420x280.png 420w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-510x340.png 510w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\"><em>Masjid di asrama putra Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Aceh Tamiang masih berdiri kokoh di antaranya tumpukan kayu yang terbawa arus banjir dan tanah longsor, Jumat (13\/12\/2025).(KOMPAS.com\/Tria Sutrisna)<\/em> <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MTA juga mengungkapkan bahwa kondisi di Aceh sudah sangat layak ditetapkan sebagai Bencana Nasional demi mempercepat penanganan pascabanjir. &#8220;Skalanya (bencana) ini memang nasional,&#8221; katanya. Namun demikian, untuk menentukan penetapan status Bencana Nasional itu semuanya tergantung pada kebijakan pusat. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Terkait penentuan status legalitas itu tergantung atas pertimbangan pemerintah pusat sendiri,&#8221; ujarnya. Menurut MTA, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dalam beberapa kesempatan selalu berharap agar bantuan internasional harus dibuka, supaya penanganan bencana lebih masif. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, terkait bantuan-bantuan logistik dari internasional pihaknya berharap pemerintah bisa mengambil kebijakan atau diskresi tanpa pajak. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"750\" height=\"500\" src=\"https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-426\" srcset=\"https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-1.png 750w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-1-300x200.png 300w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-1-150x100.png 150w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-1-330x220.png 330w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-1-420x280.png 420w, https:\/\/etiks.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/image-1-510x340.png 510w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\"><em>Bekas Longsoran di sisi Jalan Banda Aceh &#8211; Medan, kawasan Aceh Tamiang, Jumat (12\/12\/2025).(KOMPAS.com\/Tria Sutrisna) <\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengingat hal ini berkaitan dengan bantuan untuk kemanusiaan bagi rakyat sendiri. Bukan malah mengenakan pajak bagi mereka yang hendak membantu. &#8220;Jika pemerintah berlakukan pajak terhadap bantuan kemanusian yang membantu rakyatnya sendiri, justru akan membuat rakyat dan masyarakat internasional berasumsi seakan-akan Aceh sedang dizalimi oleh pemerintah, hal ini sangat tidak baik,&#8221; tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\" style=\"font-style:italic;font-weight:200\">Sumber:&nbsp;<a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2025\/12\/15\/105521578\/pemprov-aceh-surati-2-lembaga-pbb-minta-bantuan-tangani-bencana-aceh\">https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2025\/12\/15\/105521578\/pemprov-aceh-surati-2-lembaga-pbb-minta-bantuan-tangani-bencana-aceh<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH, KOMPAS.com &#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh menyurati dua lembaga resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu United Nations Development Programme (UNDP) dan UNICEF agar membantu penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh. &#8220;Secara khusus Pemerintah Aceh resmi juga telah menyampaikan permintaan keterlibatan beberapa lembaga internasional atas pertimbangan pengalaman bencana tsunami 2004, seperti UNDP dan UNICEF,&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":428,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[29,30],"class_list":["post-424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-aceh","tag-banjir"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=424"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/424\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":432,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/424\/revisions\/432"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/428"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/etiks.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}